ChurchTeologiTeologia Keselamatan

Mengapa Kekristenan Disebut Sebagai ‘Agama yang Berlumuran Darah’?

Kekristenan kerap disebut sebagai “agama yang berlumuran darah.” Bagaimanapun juga, umat Kristen membangun iman mereka di atas kematian yang berdarah dari Yesus yang disalibkan. Kita bernyanyi dengan penuh semangat, “Apa yang dapat menghapus dosaku? Tiada lain selain darah Yesus!” Dan bersama Rasul Petrus, kita mengakui bahwa kita telah ditebus “bukan dengan barang yang fana, seperti perak atau emas, melainkan dengan darah Kristus yang mahal, seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18-19).

Namun, kita bisa saja salah memahami makna darah Yesus dan bahkan membicarakannya dengan cara yang menyimpang dari ajaran Alkitab. Doktrin Katolik Roma melemahkan prinsip kecukupan karya Kristus yang telah rampung dengan mengajarkan bahwa darah-Nya dipersembahkan berulang kali dalam kurban Ekaristi. Demikian pula, sebagian umat Protestan melakukan kesalahan serupa dengan anggapan bahwa Yesus terus-menerus mempersembahkan darah-Nya di surga.

Di sisi lain, ada pihak-pihak yang berpendapat bahwa daya penyelamat darah Yesus terletak pada sifat mistis atau ilahi dari cairan itu sendiri, dan bukan pada kematian-Nya sebagai kurban. Pandangan keliru ini mencampuradukkan kodrat manusiawi dan ilahi Kristus serta menjurus secara berbahaya ke arah Monofisitisme.[1]

Berikut adalah tiga pernyataan yang merangkum ajaran Alkitab mengenai makna darah Yesus sekaligus menjaga kita dari kekeliruan.

1. Daya penyelamatan darah Yesus terletak pada kematian-Nya sebagai kurban di kayu salib.

Ketika kita membaca tentang darah Yesus dalam Kitab Suci, hal itu melambangkan kematian-Nya yang penuh penderitaan di kayu salib, serta sifat pengurbanan dari kematian-Nya tersebut. Kita mengetahui bahwa darah-Nya melambangkan kematian karena bahasa Alkitab menggambarkan kematian dalam kaitan dengan penumpahan darah (bdk. Kejadian 9:6).

Paulus memperjelas hubungan antara darah dan kematian Yesus ketika ia berbicara tentang Kristus yang mengadakan damai sejahtera melalui “darah salib-Nya” dan mendamaikan kita dengan Allah di dalam “tubuh jasmani-Nya oleh kematian-Nya” dalam Kolose 1:20-22.[2]

Namun, darah Yesus secara khusus dikaitkan dengan gagasan tentang kurban. Di tengah pembahasan mendalam mengenai hubungan antara Kristus dan sistem kurban Perjanjian Lama, kita membaca dalam Ibrani 9:22 bahwa “tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa.” Hal ini menegaskan perlunya kurban demi pengampunan dan menunjukkan bahwa kurban, pada hakikatnya, melibatkan penumpahan darah. Bagian tersebut kemudian melanjutkan dengan menunjukkan bahwa Kristus “telah menyatakan diri-Nya satu kali untuk selama-lamanya pada akhir zaman untuk menghapuskan dosa melalui pengurbanan diri-Nya sendiri” (Ibrani 9:26).

Hal ini mengarah pada proposisi kedua:

2. Pengorbanan Yesus yang disertai pencurahan darah dilakukan sekali untuk selama-lamanya dalam satu persembahan.

Hal ini juga sangat jelas terlihat dalam Kitab Ibrani. Perhatikanlah rangkaian ayat berikut:

– Ibrani 7:27: ‘yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.’

– Ibrani 9:11-12: Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, – artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, – dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.

– Ibrani 9:25-26: Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.

– Ibrani 10:10: Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

– Ibrani 10:12-14: Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.

Ayat-ayat ini menegaskan secara tak terbantahkan bahwa pengorbanan Kristus telah rampung sepenuhnya melalui penyerahan diri-Nya di kayu salib. Meskipun sebagai Imam Besar Ia terus menjadi perantara bagi kita di sebelah kanan Allah (Ibrani 7:25; Roma 8:34), tidak ada lagi kebutuhan akan pengorbanan yang terus-menerus atau berulang. Karya imamat-Nya dalam hal pengorbanan telah tuntas. Persembahan itu telah dilakukan dan tidak perlu diulangi lagi. Sebagaimana perkataan Yesus sendiri saat menjelang ajal-Nya, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30).

3. Persembahan tunggal ini telah mendatangkan kasih karunia ganda bagi kita.

Tentu saja, Kitab Suci mengaitkan berbagai macam berkat dengan darah Kristus. Berkat-berkat tersebut meliputi pengampunan (Efesus 1:7), pendamaian atas murka Allah (Roma 3:25), pembenaran (Roma 5:9), pendamaian dengan Allah (Efesus 2:13-16), penyucian (1 Yohanes 1:7), pengudusan (Ibrani 13:12), kebebasan dari dosa (Wahyu 1:5), dan kemenangan atas Iblis (Wahyu 12:10-11).

Namun, salah satu cara yang bermanfaat untuk merangkum berkat-berkat ini adalah dengan menggunakan istilah “kasih karunia ganda” dari John Calvin. Dalam karyanya *Institutes*, Calvin menyatakan:

Kristus dikaruniakan kepada kita oleh kemurahan hati Allah, untuk kita terima dan miliki melalui iman. Dengan mengambil bagian dalam diri-Nya, pada dasarnya kita menerima kasih karunia ganda: pertama, bahwa karena didamaikan dengan Allah melalui ketidakbercelaan Kristus, kita mendapati Allah di surga bukan sebagai Hakim melainkan sebagai Bapa yang penuh kasih karunia; dan kedua, bahwa karena dikuduskan oleh Roh Kristus, kita dapat memupuk hidup yang tak bercela dan murni.[3]

Dengan kata lain, penyatuan kita dengan Kristus dalam kematian-Nya yang penuh pengorbanan merupakan dasar bagi penerimaan kita di hadapan Allah serta jalan masuk ke hadirat-Nya, sekaligus sarana penyucian kita dari dosa dan transformasi moral menuju rupa Kristus.

Hal ini berarti kita dapat dengan penuh keyakinan mengandalkan karya Kristus yang telah rampung, baik untuk kepastian penghapusan beban rasa bersalah maupun untuk kuasa yang efektif dalam melepaskan kita dari belenggu dosa. Dalam teologi tradisional, hal ini disebut sebagai pembenaran (*justification*) dan pengudusan (*sanctification*).

Kasih karunia bagi pembenaran tersebut tergambar dengan indah dalam terjemahan Wesley atas lagu rohani klasik karya Zinzendorf:

Yesus, darah dan kebenaran-Mu

Adalah keindahanku, pakaianku yang mulia;

Di tengah dunia yang berkobar, berbalutkan hal ini,

Dengan sukacita ‘kan kuangkat kepalaku.

Aku ‘kan berdiri teguh di hari-Mu yang agung;

Sebab siapa yang dapat mendakwa diriku?

Sepenuhnya aku dibebaskan olehnya

Dari dosa dan ketakutan, dari rasa bersalah dan malu.[4]

Ini saja sudah merupakan kabar baik! Namun, darah Kristus tidak hanya membenarkan, tetapi juga menguduskan. Itulah sebabnya John Owen, seorang ahli penyembuh jiwa yang agung dari abad ketujuh belas, dalam karya klasiknya mengenai pematian dosa, berkata, “Kerahkanlah imanmu kepada Kristus untuk mematikan dosamu. Darah-Nya adalah obat yang paling ampuh bagi jiwa-jiwa yang sakit karena dosa.”[5]

Umat ​​percaya telah bersukacita atas kasih karunia ganda ini sepanjang abad. Dan itulah sebabnya kita bernyanyi dengan sukacita,

Demi pengampunan, inilah yang kulihat,

Tiada lain selain darah Yesus;

Demi penyucian, inilah permohonanku,

Tiada lain selain darah Yesus.

Oh! Sungguh berharga aliran itu

Yang membuatku putih bagaikan salju;

Tiada sumber lain yang kukenal,

Tiada lain selain darah Yesus.[6]

Sumber : Brian G. Hedges – https://www.christianity.com/

Daftar Artikel Tentang Keselamatan Manusia :

Artikel dan Tulisan Utama Teologia :