Equip TraningLeadership

Kepemimpinan dan Hubungan Antar Pribadi: Mereka Mensukseskan Saya atau Menghancurkan Saya

Equip Seminar Buku 6 bab 4

Hubungan Antar Pribadi adalah Kunci Sukses Seorang Pemimpin

“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanm di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Matius 5:23-24)

Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah dibangun di atas hubungan antar pribadi. Sementara kita memegang erat doktrin dan teologi, pokok-pokok itu bukanlah intisari iman Kristen maupun kepemimpinan kita. Apa yang memisahkan kita dari semua agama di dunia adalah ini: iman kita dibangun di atas hubungan antar pribadi. Saat Yesus diminta untuk meringkaskan perintah yang terpenting, Dia menjawab, “Kasihilah Tuhan Allahmu.. dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39). Dia mendaftarkan sebuah hubungan vertikal dan sebuah hubungan horizontal. Dalam ayat-ayat di atas, Yesus mengajarkan bahwa suatu hubungan yang sedang tidak beres merupakan suatu masalah rohani dan mendahului kepentingan korban agamawi. Bagi para pemimpin Kristen, kita tidak dapat menganggap kita berhasil kecuali kita telah menguasai seni dalam memimpin hubungan-hubungan yang sehat diantara pribadi-pribadi yang ada.

Sebuah Survei Hubungan Antar Pribadi

Marilah kita mulai pelajaran ini dengan sebuah survei singkat mengenai bagaimana anda menangani hubungan antar pribadi. Lingkarilah jawaban anda.

PERTANYAAN                                               JAWABAN – YA/TIDAK

  1. Apa anda merasa cemas saat seseorang tertentu telah menelpon dan meninggalkan suatu pesan?
  2. Apa baru-baru ini anda punya suatu hubungan yang menguras tenaga atau antusias anda?
  3. Sulitkah menyebut tiga nama teman yang kepadanya anda bisa menceritakan dosa-dosa terburuk anda?
  4. Apakah anda terkadang takut karena melihat seorang tertentu dalam suatu situasi sosial?
  5. Apa anda punya beberapa hubungan yang anda lebih banyak memberi daripada menerima?
  6. Sukarkah anda berupaya mempertahankan suatu hubungan persahabatan yang akrab?
  7. Apakah kreatifitas anda terhalangi oleh keasyikan anda dalam hubungan-hubungan yang kurang sehat?
  8. Apakah anda menjadi lebih suka mengkritik diri dan tidak nyaman di hadapan orang lain?
  9. Apakah anda jadi gampang marah karena frustrasi-frustrasi yang tak terselesaikan dengan orang lain?
  10. Apakah anda memiliki bayangan percakapan dengan orang-orang lain, yang mengakibatkan konflik internal dalam diri anda sendiri?

PENGHITUNGAN SKOR: Jumlahkan semua Ya yang anda dapat. Bila anda mendapat 7 atau lebih Ya, anda perlu meningkatkan hasil pembagian hubungan anda. Anda sedang mengalami hubungan-hubungan yang menuntut pertahanan yang tinggi dan pencurahan perasaan dapat menguras energi yang anda perlukan untuk memimpin. Barangkali anda memerlukan hubungan-hubungan yang lebih sehat dalam hidup anda.

Daya dari Cara Pandang

Cara pandang anda sementara anda memasuki suatu hubungan antar pribadi akan berpengaruh besar pada bagaimana hubungan itu akan berakhir. Misalnya, tunjukkan kepada saya seorang yang memandang dirinya negatif, maka saya akan menunjukkan kepada anda seseorang yang memandang orang-orang lain dalam suatu cara yang negatif. Kita bertindak sebagaimana kita memandang diri kita sendiri. Bahkan, adalah mustahil untuk bertindak secara konsisten dalam suatu cara yang tidak konsisten dengan cara pandang kita atas diri kita sendiri.

Orang yang menyukai dirinya sendiri, cenderung untuk menyukai orang-orang lain juga. Mereka yang tidak mempercayai dirinya sendiri, juga cenderung untuk tidak mempercayai orang-orang lain. Yesus memberitahu kita untuk “mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri” (Matius 22:39). Kita rentan untuk melakukan tepat seperti itu – yaitu: kita mengasihi orang-orang lain hanya sejauh kita mengasihi diri kita sendiri. Celakanya, kita tidak menyadari cara pandang kita yang tercemari, lalu kita menuduh orang-orang lain untuk perasaan-perasaan negatif yang kita miliki dalam diri kita itu. Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat bagus saat Dia berkata: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3)

Renungkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini sementara kita maju dalam pelajaran ini:

– Bagaimana saya memandang diri saya sendiri?

– Bagaimana orang lain memandang diri saya?

– Bagaimana saya memandang orang lain?

Peranan dari Tanggung Jawab

Roma 12:18 memberitahu kita: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”

Pengkalimatan ulang dari ayat itu mungkin akan berbunyi demikian: Lakukan yang terbaik sejauh anda sanggup untuk dapat bergaul akrab dengan semua orang. Namun sadarilah bahwa sekali-sekali anda akan mengalami suatu hubungan dengan seorang yang sulit yang membuat anda kehilangan yang ideal. Kuncinya adalah membuat suatu keputusan untuk merespons dengan baik.

Kunci hubungan-hubungan yang penuh sukses adalah TANGGUNG JAWAB

Para pemimpin harus meneguhkan kalimat-kalimat berikut ini:

  1. Saya bertanggung jawab mengenai bagaimana saya memperlakukan orang lain.
  2. Saya tidak bertanggung jawab atas bagaimana mereka memperlakukan saya.
  3. Saya akan menekuni jalan yang tidak mudah dan memimpin orang-orang dengan baik atas dasar pilihan, bukan atas dasar reaksi.
  4. Saya harus melihat diri saya sendiri dan orang-orang lain sebagaimana Allah melihatnya.
  5. Saya bertanggung jawab atas bagaimana saya meresponi mereka yang sifatnya sulit.

Ambillah Jalan Yang Tak Mudah dengan Orang-Orang Lain

Mari kita lihat beberapa macam orang yang mungkin akan anda jumpai di sepanjang hidup anda, dan bagaimana anda dapat memimpin mereka dengan prestasi terbaik. Memimpin dengan baik menuntut anda memilih untuk mengambil jalan yang tak mudah dan melakukan apa yang benar dalam masing-masing hubungan antar pribadi ini,

1. Si Pengeritik. Orang macam ini terus-menerus mengeluh dan memberi nasihat-nasihat yang tak diinginkan.

Cara-Cara Menangani Si Pengritik:

  • Komunikasikan kepedulian anda dengan cara mendengarkan mereka, namun tantanglah mereka untuk mengajukan pemecahan-pemecahan.
  • Peringatkan para pemimpin puncak anda akan racun yang mungkin mereka sebarkan melalui kritikan-kritikannya.
  • Minta si Pengritik itu untuk menjadi bagian dari pemecahan masalah-masalah yang mereka munculkan.

2. Si Martir/ mati syahid. Orang macam ini merasa seperti menjadi korban dan berenang-renang dalam sebuah kolam “mengasihani diri.”

Cara-cara menangani Si Mati Syahid:

  • Buatlah mereka sadar bahwa soal memiliki perasaan itu tergantung pada pilihan dirinya.
  • Ajarlah mereka bahwa seorang pemimpin bertanggung jawab untuk berada di “atas” mereka yang dipimpinnya.
  • Perhadapkan mereka kepada orang-orang yang memiliki masalah-masalah nyata, agar mereka memperoleh cara pandang yang benar.
  • Jangan pernah menghadiahi rasa kasihan diri.

3. Si Selimut Basah. Orang maçam ini selalu pesimis dan kering dalam hubungan.

Cara-Cara Menangani Si Selimut Basah:

  • Jujurlah dengan mereka
  • Jangan harapkan mereka untuk berubah sepanjang mereka tetap mengajukan dalih-dalih.
  • Tunjukkan sukses-sukses masa lalu yang dulu mereka pikir akan gagal.
  • Jangan izinkan mereka melembabkan/mengecilkan antusiasme anda.

4. Si Penindas / Mesin Giling. Orang macam ini melindas orang-orang lain dan menikmati saat menakut-nakuti orang, mereka orang-orang yang agresif dan dapat sangat bermusuhan.

Cara-Cara Menangani Si Pelindas:

  • Pertimbangkan pengaruh yang mereka miliki sebelum anda bertindak.
  • Cobalah bermusyawarah dengan mereka, dan perhadapkan mereka dengan ketidak-pekaannya.
  • Kenalilah pokok masalah yang mereka sedang desakkan atau lawan.
  • Ambillah suatu pendirian ketika masalahnya begitu jelas antara benar dan salah.

5. Si Pengepul Sampah. Orang macam ini mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang bersifat negatif, mereka menggosip dan menyebarkan rumor yang meracuni.

Cara-Cara Menangani Si Pengepul Sampah:

  • Konfrontir mereka dengan orang-orang yang dibicarakan oleh mereka.
  • Tantanglah pernyataan-pernyataan mereka dengan kebenaran yang obyektif.
  • Izinkan penyingkapan fakta demi menghancurkan kredibilitas mereka.
  • Hadapkan mereka kepada para pemimpin gereja dan peringatkan apa yang sedang terjadi.

6. Si Gila Kontrol. Orang macam ini tidak sanggup melepaskan dan mempercayai Allah maupun manusia. Mereka mau selalu menjadi pengontrol/ pengendali.

Cara-Cara Memangani Si Gila Kontrol:

  • Jangan memberi mereka posis-posisi kekuasaan yang kelihatan tinggi.
  • Ingatkan mereka akan perintah-perintah Kitab Suci untuk mempercayai Allah dan orang-orang lain.
  • Sampaikan kepada mereka bahwa kontrol itu hanya sebuah mitos belaka tak seorang pun yang benar-benar pernah mengontrol/mengendalikan hidupnya.
  • Melihat ulang bersama mereka banyak waktu di masa lampau dimana Allah turun dan mencukupkan mereka.

7. Si Maverick (Pelawan Tradisi) – Sapi Liar. Orang macam ini membuat orang-orang lain frustrasi dengan hidup di dunia mereka sendiri, lupa akan kebutuhan orang-orang lain dan gambaran besarnya.

Cara-Cara Menangani Si Maverick

  • Jangan mengevaluasi kepemimpinan anda dengan respons yang bersifat maverick juga.
  • Jangan menempatkan mereka ke dalam suatu kedudukan pelayanan tim.
  • Jangan memberi mereka suatu peran kepemimpinan sampai mereka sanggup melihat melampaui diri mereka sendiri.
  • Temukan apa yang memotivasi mereka, dan doronglah mereka untuk melihat gambaran besarnya.

8. Si Penikam dari Belakang. Orang macam ini secara tak tertahankan bermuka dua dan munafik; beritanya berubah-ubah bersama dengan kumpulan orang banyak yang ada.

Cara-Cara Menangani Si Penikam Dari Belakang:

  • Jumpai mereka dan sampaikan kerinduan anda untuk mempercayai mereka.
  • Dengan lembut perhadapkan mereka dengan contoh-contoh yang khusus tentang kemunafikan mereka.
  • Libatkan orang-orang lain yang telah mengalami cara-cara muka-dua mereka, sebagai bukti nyata.
  • Jangan memberi mereka otoritas sampai anda melihat mereka merubah cara-cara mereka.

9. Si Pundak Dingin. Orang macam ini menjauhkan diri dan menghindari kontak.

Cara-Cara Menangani Si Pundak Dingin:

  • Jangan memberi pahala pada tingkah laku kekanak-kanakan dengan mengejar untuk mendekati mereka setiap kali mereka memperlambat langkah atau menjaga jarak dengan kita.
  • Pastikan bahwa anda akan menemui mereka dan menanyakan kalau-kalau anda telah melakukan sesuatu yang benar-benar telah melukai mereka.
  • Gali secara mendalam guna menemukan pokok masalah yang sesungguhnya yang telah menyebabkan mereka menghindari anda.
  • Jangan mengabsahkan mereka maupun perilakunya.

10. Si Gunung Berapi. Orang macam ini membangun suasana panas dan sering meletus; mereka suka meledak, tak terduga dan tak dapat didekati.

Cara-Cara Menangani Si Gunung Berapi:

  • Singkirkan mereka dari kumpulan orang banyak.
  • Tetaplah tenang. Mintalah mereka untuk duduk tenang.
  • Mintalah mereka untuk mengulangi semua seluk-beluknya agar pokok masalahnya menjadi jelas; singkirkan kabar-kabar angin dan berita yang membesar-besarkan.
  • Berikan suatu jawaban yang lembut dan jelas.
  • Mintalah mereka bertanggung jawab.

11. Si Spons. Orang macam ini terus-menerus berada dalam kebutuhan, namun tidak pernah kembali memberi. Mereka suka memanfaatkan orang lain.

Cara-Cara Menangani Si Sepon:

  • Tetapkan batas-batas kesanggupan anda untuk membantunya.
  • Jangan biarkan mereka memanipulasi anda atau situasi yang ada.
  • Tuntutlah tanggung jawab; tantanglah mereka bahwa kedewasaan berarti saling memberi dan menerima.
  • Jangan anda merasa tertuntut atau merasa bersalah atas permintaan-permintaan mereka.

12. Si Pesaing / Kompetitor. Orang macam ini menyimpan catatan skor pertandingan dalam segala sesuatu. Mereka ingin mengalahkan orang-orang lain dan sering merasa bahwa hidup itu tidak adil.

Cara-Cara Menangani Si Pesaing:

  • Ingatkan mereka bahwa satu peran Kristen kita adalah untuk memperlengkapi (complete) orang-orang lain, bukan untuk bersaing (compete) dengan orang-orang lain.
  • Beritahu mereka akan orang-orang lain yang telah lebih banyak mengalah dari pada mereka.
  • Biarlah mereka tahu bahwa menyimpan catatan skor pertandingan akan membuat mereka berakhir dalam suatu kehidupan yang sengsara.
  • Bergabunglah dengan mereka untuk menemkan cara-cara yanig positif agar jiwa persaingan mereka dapat dipakai secara positif oleh Allah.

Aturan-Aturan Umum Saat Menangani Orang

  1. Kasihi mereka
  2. Mintalah hikmat dari Allah.
  3. Jagalah dirimu sendiri tetap sehat.
  4. Jangan memberi kedudukan-kedudukan yang istimewa demi menolong orang untuk jadi lebih bak.
  5. Jujurlah dengan Allah, dengan diri anda sendiri dan dengan mereka.
  6. Jagalah orang-orang yang sehat untuk berada dalam kepemimpinan.

Penilaian : Temukan seseorang yang sulit anda pimpin. Apakah mereka cocok dengan salah satu gambaran yang telah kita bahas di atas?

Penerapan : Tulislah sebuah “rencana permainan” tentang bagaimana anda akan memimpin bersama dengan mereka.

Sumber : Equip Seminar Buku 6 Bab 4 – materi digital disusun Nathanael Ricardo untuk www.transformasi.com. 

Equip Seminar adalah pelatihan kepemimpinan yang merupakan bagian dari proyek global Millions Leaders Mandate – Mandat Sejuta Pemimpin dengan tujuan menyiapkan sejuta pemimpin yang mempengaruhi dunia dengan kabar baik. Diinisiasi oleh penulis buku dan hamba Tuhan John C. Maxwell, materi dalam program ini banyak belajar tentang kepemimpinan dari pemimpin utama sekaligus model pelayanan kehambaan tak terbantahkan, Tuhan itu sendiri.

Penyusun memiliki dua sertifikasi untuk pelatihan ini sejak tahun 2006 dan memperoleh ijin untuk membagikan materi ini bagi semua orang yang ingin diperlengkapi untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Anda bisa menjadikan materi ini sebagai bahan mentoring di perusahaan, pemuridan di organisasi kerohanian atau sekedar bacaan bagi anda. Silakan menggunakan materi ini dengan syarat mencantumkan sumber materi.

Untuk mendapatkan hasil terbaik dari pelatihan ini disarankan untuk mempelajari materinya secara lengkap dan runtun. Buatlah pelatihan yang terencana dan terjadwal, lakukan dalam grup atau berkelompok serta ciptakan ruang interaktif untuk memperoleh hasil yang maksimal. Selamat menjalani proses untuk kepemimpinan yang diberkati Tuhan.

EQUIP Leadership Seminar Buku 6 :

Baca Artikel Utama Tentang Pemimpin dan Kepemimpinan :