Bagaimana Yesus Berinteraksi dengan Anak-anak? Makna dan Pentingnya Hal Ini
Dalam kitab-kitab Injil, kita mendapati bahwa Yesus mengasihi anak-anak dan menghargai waktu yang dihabiskan bersama mereka. Ia melengkapi dan memberdayakan anak-anak untuk melayani dunia. Ia juga mendorong orang-orang percaya masa kini untuk memiliki hati dan pola pikir seperti anak kecil dalam sikap serta iman mereka.
Sejak awal, kasih Allah terhadap anak-anak telah nyata dalam Kitab Suci.
Dalam kitab Mazmur, Daud menulis bahwa anak-anak sangat berharga di mata Allah, bahkan sebelum mereka lahir.
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya. (Mazmur 139:13-16).
Apa Kata Alkitab tentang Anak-anak?
Salomo, putra Daud, menulis, “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.” (Mazmur 127:3-5).
Dalam kitab Mazmur, Daud juga berkata, “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.” (Mazmur 8:2-3).

Meskipun sebagian orang mungkin memandang anak-anak sebagai sosok yang kecil, menjengkelkan, tidak berarti, atau lemah, Allah menegaskan dengan sangat jelas bahwa anak-anak memiliki peran yang besar dalam kerajaan Allah. Mereka bukanlah gangguan atau beban. Mereka adalah harta milik-Nya. Doa-doa mereka didengar, isi hati mereka dirasakan, dan pujian mereka sama kuatnya dengan pujian orang dewasa mana pun.
Yesus Mengasihi Anak-anak Selama Pelayanan-Nya dan Mereka pun Mengasihi-Nya
Kasih Allah terhadap anak-anak semakin nyata dalam interaksi Yesus selama masa hidup-Nya di bumi.
Pada masa ketika anak-anak, janda, orang sakit, dan lansia tidak memiliki status atau kehormatan yang berarti, Yesus hadir dan mengubah secara drastis pandangan masyarakat saat itu mengenai anak-anak.
Anak-anak datang kepada-Nya, memuji-Nya, dan bersukacita karena dapat menjadi bagian dari pelayanan-Nya (Matius 21:15). Namun, ada pihak-pihak yang beranggapan bahwa kehadiran anak-anak justru akan “mengganggu” Yesus dalam menjalankan pelayanan-Nya yang lebih besar.
Akan tetapi, dalam Injil Markus, tercatat bahwa Yesus menegur murid-murid-Nya karena mereka menghalangi orang-orang yang membawa anak-anak kepada-Nya. “Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: ”Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. 15Matius 18:3;
Luk. 18:17 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”’” (Markus 10:14-15).
Dalam Injil Matius, Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 18:10

Dalam berbagai kesempatan, Yesus secara khusus meluangkan waktu untuk menyembuhkan anak-anak yang menderita karena penyakit maupun gangguan rohani:
- Yesus mengusir setan dari anak perempuan seorang wanita Yunani (Markus 7:24-30).
- Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus dari kematian (Lukas 8:40-56).
- Yesus menyembuhkan anak laki-laki seorang pria kaya (Yohanes 4:46-52).
Beberapa orang mungkin menganggap interaksi-interaksi ini sebagai pemborosan waktu bagi Yesus. Bagaimanapun, mereka hanyalah anak-anak – sosok yang dianggap tidak memiliki status maupun arti penting. Namun, Yesus menegaskan bahwa di dalam kerajaan-Nya, status dan arti penting seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan, kekuasaan, pengaruh, ataupun usia.
Nilai diri kita tidak ditentukan oleh berapa lama kita telah hidup di dunia ini ataupun oleh hal-hal yang telah kita lakukan. Dalam indahnya kasih karunia Allah, nilai diri kita berasal dari Dia. Baik muda maupun tua, kita semua adalah anak-anak Allah, dan “tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah” (Roma 8:31-39).
Berlawanan dengan anggapan banyak orang – bahkan para murid-Nya sendiri – Yesus tidak datang hanya untuk melengkapi mereka yang dianggap kuat atau berpengaruh oleh masyarakat. Ia datang untuk semua orang (Yohanes 3:16), termasuk anak-anak.
Oleh karena itu, pelayanan bagi anak-anak bukanlah pelayanan sekunder atau pengalih perhatian dari pelayanan-Nya selama di dunia; melainkan bagian dari pelayanan-Nya – sesuatu yang Ia hargai dan kepadanya Ia mencurahkan perhatian penuh.
Yesus Memberdayakan Anak-anak
Di sepanjang Kitab Suci, Allah tidak segan-segan untuk mengutus dan memberdayakan orang-orang percaya yang masih muda. Dengan melakukan hal itu, Ia menegaskan bahwa iman dan ibadah bukan hanya diperuntukkan bagi orang dewasa atau mereka yang sudah matang secara rohani (Mazmur 8:2). Anak-anak memiliki peran yang sama besarnya dalam Kerajaan Allah dan sama pentingnya dalam rencana-Nya bagi dunia ini.
Allah sering kali memercayakan hikmat, kuasa, dan karunia-karunia Roh Kudus kepada anak-anak serta orang percaya yang masih muda; dan Alkitab penuh dengan contoh orang-orang percaya muda yang diutus serta didorong untuk melakukan hal-hal luar biasa bagi Kerajaan Allah:
- Yusuf (Kejadian 37)
- Samuel (1 Samuel 3:1-20); Daud (1 Samuel 16:12-23)
- Yosia (2 Raja-raja 22:1-2); Daniel (Daniel 1)
- Maria (Lukas 1:26-30); Timotius (2 Timotius 1:1-2)
- Yesus (Lukas 2:21-38)
Dalam setiap kisah, Allah berbicara kepada orang-orang percaya yang masih muda dan memampukan mereka sejak usia dini; dan dalam setiap peristiwa tersebut, mereka mengambil tanggung jawab atas iman mereka, mencari Tuhan, serta mengikuti petunjuk-Nya. Dengan demikian, Allah memakai mereka masing-masing secara luar biasa. Usia bukanlah penghalang.
Sebagaimana Paulus menulis kepada Timotius, “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12).
Allah tidak ragu untuk memercayakan pesan Injil kepada kaum muda, dan dalam banyak hal, Ia juga menghendaki anak-anak serta kaum muda untuk menjadi teladan bagi orang-orang percaya yang lebih dewasa dalam hal mencari Tuhan.
Yesus Mendorong Kita untuk Menjadi Seperti Anak-anak
Selama masa pelayanan-Nya, murid-murid Yesus bertanya siapa yang dianggap terbesar dalam Kerajaan Surga. Menanggapi hal itu, Yesus “memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku’” (Matius 18:1-5).
Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk meneladani iman dan kerendahan hati anak-anak sebagai contoh cara menjalani hidup. Ia menghendaki agar para pengikut-Nya – berapapun usia mereka – memiliki sikap yang mau diajar, rendah hati, dan senantiasa bergantung kepada-Nya.
Seiring bertambahnya usia, kita cenderung lebih mengandalkan hikmat dan pengalaman sendiri daripada hikmat Allah. Padahal, dibandingkan dengan Allah, hikmat kita hanyalah kebodohan. Dan terlepas dari berapa pun usia atau pengalaman yang kita miliki, kita tetap sepenuhnya bergantung pada belas kasih dan kasih karunia Allah, entah kita menyadarinya atau tidak (Amsal 3:5).

Demikian pula, Yesus ingin kita dipenuhi dengan sukacita, antusiasme, dan iman seperti anak kecil – mempercayaiNya sebagaimana seorang anak mempercayai orang tuanya untuk mencukupi segala kebutuhannya (Matius 6:25-34; Filipi 4:19).
Anak-anak adalah teladan yang dianugerahkan Allah bagi orang yang bijak; mereka merupakan bagian penting dari rencana Allah serta harta berharga dalam Kerajaan-Nya, baik di bumi maupun di surga. Kitab Suci dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus senantiasa mengasihi anak-anak di dunia ini. Mereka sangat berharga, dihargai, dan dipandang mulia di mata-Nya.
Sumber : Joel Ryan – https://www.christianity.com/
Baca Artikel Kebangkitan Orang Muda Lainnya :
- Artikel dan Tulisan Kebangkitan Orang Muda
- Tujuh Pesan Regenerasi
- Menaklukkan 7 Gunung Pengaruh Transformasi
- Bangkitnya Pasukan Di Akhir Zaman
- Orang Muda Memiliki Hati Yang Peka
- Ester – Semak Hijau Menjadi Bintang Yang Bercahaya
- Gelombang Baru Generasi Baru
- Gereja Jangan Biarkan Jemaat Tanpa Mentoring
- Jendela 4/14 – Generasi Muda Yang Teristimewa
- Melahirkan Para Raja
- Pendalaman Alkitab Untuk Remaja
- Sikap Yoab – Sikap Militia Christi
- 20 Cara untuk Melibatkan Kaum Muda
- Pelayanan Pemuda: Langkah Mendalam Atau Bodoh?
