ChurchTeologiTeologia KeselamatanTeologia Surga Neraka

Apakah Hanya Ada Satu Jalan Menuju Surga?

Kitab Suci Kristen menegaskan dua hal: pertama, bahwa hanya Yesus yang telah melakukan karya pendamaian yang diperlukan untuk menyelamatkan orang berdosa; dan kedua, bahwa pengetahuan tentang Kristus serta iman kepada-Nya merupakan syarat mutlak bagi siapa pun untuk diselamatkan dan masuk surga.

Apakah Yesus satu-satunya Juruselamat? Apakah iman kepada Kristus diperlukan untuk keselamatan?

Kaum Inklusivisme menjawab “Ya” untuk pertanyaan pertama dan “Tidak” untuk pertanyaan kedua. Bagi penganut inklusivisme, meskipun Yesus telah melakukan karya yang diperlukan untuk membawa kita kembali kepada Allah, orang tetap dapat diselamatkan dengan merespons secara positif penyataan Allah melalui ciptaan dan mungkin melalui aspek-aspek agama mereka sendiri. Jadi, walaupun Kristus adalah satu-satunya Juruselamat, seseorang tidak harus mengenal atau memercayai Kristus untuk dapat diselamatkan.

Kaum Pluralisme menjawab “Tidak” untuk kedua pertanyaan tersebut. Penganut pluralisme meyakini bahwa ada banyak jalan menuju Allah, dan Yesus hanyalah salah satunya. Karena keselamatan dapat diperoleh melalui agama dan pemimpin agama lain, maka dengan sendirinya orang tidak perlu memercayai Kristus untuk diselamatkan.

Penganut Eksklusivisme menjawab “Ya” untuk kedua pertanyaan tersebut.

Yesus adalah Satu-satunya Jalan

Mengapa orang Kristen beranggapan bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat? Dari semua orang yang pernah dan akan hidup, hanya Yesus yang memenuhi syarat – baik melalui pribadi maupun karya-Nya – sebagai satu-satunya sosok yang mampu melakukan pendamaian atas dosa dunia. Perhatikanlah alasan-alasan berikut yang menunjukkan mengapa hanya Yesus yang memenuhi syarat sebagai Juruselamat yang mutlak.

1. Hanya Kristus yang dikandung oleh Roh Kudus dan lahir dari seorang perawan (Yesaya 7:14; Matius 1:18; Lukas 1:26); oleh karena itu, hanya Dia yang memenuhi syarat untuk menjadi Juruselamat. Hanya ketika Roh Kudus mengambil peran sebagai bapa manusia dalam peristiwa pembuahan Yesus, barulah menjadi benar bahwa pribadi yang dikandung itu adalah Allah sejati sekaligus manusia sejati. Tidak ada seorang pun dalam sejarah dunia yang dikandung oleh Roh dan lahir dari seorang ibu perawan.

2. Hanya Kristuslah Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1:1; Ibrani 1:1; Filipi 2:5; 1 Timotius 2:5), dan dengan demikian, hanya Dia yang memenuhi syarat untuk menjadi Juruselamat. Sebagaimana dikemukakan oleh Anselmus pada abad ke-11, Juruselamat kita haruslah manusia seutuhnya agar dapat menggantikan posisi manusia dan mati bagi mereka, serta haruslah Allah seutuhnya agar nilai pengorbanan-Nya dapat memenuhi tuntutan Allah kita yang mahakudus. Tidak ada seorang pun dalam sejarah dunia yang merupakan Allah seutuhnya sekaligus manusia seutuhnya.

3. Hanya Kristuslah yang menjalani hidup tanpa dosa (2 Korintus 2:21; Ibrani 4:15; Ibrani 7:23; Ibrani 9:13; 1 Petrus 2:21), dan dengan demikian, hanya Dia yang memenuhi syarat untuk menjadi Juruselamat. Sebagaimana ditegaskan dalam kitab Imamat, hewan yang dipersembahkan sebagai korban penghapus dosa haruslah tidak bercela. Hal ini melambangkan pengorbanan Kristus yang, karena tidak berdosa, mampu mati bagi dosa orang lain dan bukan bagi diri-Nya sendiri. Tidak ada seorang pun dalam sejarah dunia yang pernah menjalani hidup yang sepenuhnya tanpa dosa.

4. Hanya Kristus yang mati sebagai hukuman pengganti (Yesaya 53:4; Roma 3:21; 2 Korintus 2:21; Galatia 3:10), dan dengan demikian, hanya Dia yang layak menjadi Juruselamat. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Dan karena Kristus menjalani hidup tanpa dosa, Dia tidak layak untuk mati. Kematian yang Dia alami adalah sebagai pengganti kita. Tidak ada seorang pun dalam sejarah dunia yang mati karena menanggung dosa orang lain, bukan sebagai hukuman atas dosanya sendiri.

5. Hanya Kristus yang bangkit dari kematian dengan kemenangan atas dosa (Kisah Para Rasul 2:22; Roma 4:25; 1 Korintus 15:3, 1 Korintus 15:16), dan dengan demikian, hanya Dia yang layak menjadi Juruselamat. Alkitab menunjukkan bahwa ada beberapa orang selain Kristus yang pernah dibangkitkan dari kematian (1 Raja-raja 17:17; Yohanes 11:38), namun hanya Kristus yang bangkit dari kematian untuk tidak pernah mati lagi, setelah menang atas dosa. Upah dosa adalah maut, dan kuasa terbesar dosa adalah maut. Jadi, kebangkitan Kristus dari kematian menunjukkan bahwa kematian-Nya sebagai penebus dosa telah mewujudkan pelunasan penuh atas hukuman dosa sekaligus kemenangan mutlak atas kuasa terbesar dosa. Tidak ada seorang pun dalam sejarah dunia yang pernah bangkit dari kematian dengan kemenangan atas dosa.

Iman Diperlukan untuk Diselamatkan

Mengapa umat Kristen beranggapan bahwa iman kepada Kristus diperlukan untuk diselamatkan? Injil secara langsung berfokus pada kematian Kristus yang membawa penebusan serta kebangkitan-Nya, dan bahwa melalui iman kepada Kristus, seseorang memperoleh pengampunan dosa dan dikaruniai hidup kekal.

1. Pengajaran Yesus sendiri menunjukkan bahwa bangsa-bangsa perlu mendengar dan bertobat agar dapat diselamatkan (Lukas 24:44). Yesus memerintahkan agar “pertobatan dan pengampunan dosa diberitakan dalam nama-Nya kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Lukas 24:47). Orang-orang yang digambarkan oleh Yesus di sini adalah mereka yang saat itu belum bertobat dan belum diampuni. Agar diampuni, mereka harus bertobat. Namun, untuk bertobat, mereka harus mendengar pemberitaan mengenai karya Kristus yang disampaikan dalam nama-Nya.

2. Paulus mengajarkan bahwa orang Yahudi yang saleh sekalipun – dan semua orang lainnya – harus mendengar dan percaya kepada Kristus agar dapat diselamatkan (Roma 10:1). Kerinduan hati dan doa Paulus adalah agar sesama orang Yahudi diselamatkan. Meskipun mereka memiliki semangat bagi Allah, mereka tidak mengetahui bahwa kebenaran Allah hanya diperoleh melalui iman kepada Kristus. Jadi, orang-orang Yahudi ini – kendati saleh – tidaklah selamat. Siapa pun yang berseru kepada nama Kristus (lihat Roma 10:9 dan Roma 10:13) akan diselamatkan.

3. Kisah Kornelius menunjukkan bahwa orang non-Yahudi yang saleh sekalipun harus mendengar dan percaya kepada Kristus agar dapat diselamatkan (Kisah Para Rasul 10:1, 38; 11:13; 15:7). Jauh dari anggapan sebagian orang bahwa ia sudah selamat sebelum Petrus datang kepadanya, Kornelius adalah seorang non-Yahudi yang saleh (Kisah Para Rasul 10:2) yang perlu mendengar tentang Kristus dan percaya kepada-Nya agar dapat diselamatkan. Ketika Petrus melaporkan tentang pertobatan orang-orang non-Yahudi, ia menyatakan bahwa barulah saat ia berkhotbah, Kornelius mendengar berita yang perlu didengarnya—berita yang melaluinya ia akan “diselamatkan” (Kisah Para Rasul 11:14; bdk. Kisah Para Rasul 15:8). Terlepas dari kesalehannya, Kornelius perlu mendengar pemberitaan Injil Kristus agar dapat diselamatkan.

Sumber : Dr. Bruce Ware – https://www.christianity.com/

Baca Artikel Tulisan Sorga Neraka :

Daftar Artikel Tentang Keselamatan Manusia :

Artikel dan Tulisan Utama Teologia :