Seorang Apologet – Bersaksi Dengan Cara Membela Iman?
Sebagian besar orang Kristen menyadari tanggung jawab mereka untuk menjangkau dunia yang sedang sekarat dengan pesan Allah. Tidak kurang dari Yesus sendiri yang mendorong kita untuk memberitakan Injil (Matius 10:27) dan menjadikan semua bangsa murid-Nya (Matius 28:19). Namun, ada dimensi lain yang sering diabaikan dalam penginjilan; yaitu, pembelaan Injil. Alkitab sendiri yang mendorong kita untuk memberitakan Injil dan juga mendesak kita untuk memperjuangkan iman (Yudas 1:3), sama seperti orang-orang Kristen mula-mula yang secara konsisten menawarkan pembelaan yang beralasan atas iman mereka di hadapan orang-orang yang tidak percaya (misalnya, lihat pidato Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7 dan pidato Paulus dalam Kisah Para Rasul 17:16-34). Memberikan alasan atas iman kita (apologetika) bukanlah pilihan atau ciri baru dari iman Kristen. Sebaliknya, itu adalah unsur penting dari kesaksian Kristen yang alkitabiah.

Di dunia yang dipenuhi kultus misteri, rasul Petrus menasihati orang percaya untuk “selalu siap sedia memberi jawaban kepada setiap orang yang bertanya tentang pengharapan yang ada padamu … dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15). Hanya dengan menanggapi keberatan yang jujur dengan jawaban alkitabiah, “kita dapat menawan setiap pikiran untuk menjadikannya tunduk kepada Kristus” (2 Korintus 10:5). Dalam semangat inilah Paulus dengan gigih membela Injil (lihat Kisah Para Rasul 14:8-18; bandingkan Kisah Para Rasul 17:2-3; Kisah Para Rasul 18:4-19; Filipi 1:7-16), dan memerintahkan orang lain untuk melakukan hal yang sama (2 Timotius 2:23-26).

Kebutuhan akan apologetika saat ini sangat penting. Orang percaya harus menyadari bahwa kita hidup di era pasca-Kristen dengan sejumlah pandangan dunia yang terus-menerus bersaing untuk mendapatkan komitmen orang dan, bahkan, untuk kehidupan mereka sendiri. Kita harus menghadapi tantangan-tantangan ini secara langsung. Apologetika tidak menggantikan iman, melainkan melengkapinya. Apologetika juga tidak menggantikan pekerjaan Roh Kudus. Sebaliknya, Roh Kudus menggunakan argumen apologetika sebagai sarana untuk memperjelas kebenaran Firman Allah. Ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk memberitakan Injil juga menginstruksikan kita untuk senantiasa siap sedia untuk mengoreksi, menegur, dan mendorong dengan kesabaran yang besar dan pengajaran yang cermat (2 Timotius 4:2).
(Diambil dari “Always Be Prepared to Give an Answer”).
Sumber : Hank Hanegraaff – https://www.christianity.com
