Apa Makna Misi Kita Adalah Meneladani Yesus?
Ketika seorang guru memberikan tugas, murid yang baik akan menanggapinya dengan serius. Mereka melakukan apa yang diminta, memberikan upaya terbaik mereka, dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

Sebelum naik ke surga, Yesus memberi kita sebuah perintah – sebuah tugas yang sebenarnya – tetapi terlalu banyak orang Kristen yang setengah hati dalam menyelesaikan tugas tersebut. Kristus memberi tahu para pengikut-Nya untuk membagikan kabar baik tentang keselamatan dan menjadikan semua bangsa sebagai murid. Beberapa orang percaya memang mendedikasikan diri mereka untuk pekerjaan ini. Tetapi banyak yang terlalu sibuk atau terlalu takut untuk mengabdikan hidup mereka dengan cara ini.
Jika kita ingin meneladani Yesus (Yohanes 13:15), maka tindakan dan perkataan kita harus menyentuh orang seperti yang Dia lakukan. Penerima kasih Juruselamat diubah selamanya. Sebagai pengikut-Nya, kita memiliki Roh Kudus yang berdiam di dalam diri kita, yang berarti kita memiliki akses kepada kuasa yang sama yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati (Roma 8:11)! Jadi, dengan membagikan Injil, memberikan dorongan semangat, dan menawarkan penghiburan, kita pun dapat mempengaruhi kehidupan orang lain. Yesus memerintahkan agar kabar baik diberitakan kepada semua bangsa. Tentu saja, tidak semua orang dapat bergerak ke wilayah atau negara lain. Beberapa orang percaya mendengar panggilan Tuhan dan pergi. Yang lain tetap tinggal, tetapi mereka tetap dipanggil untuk menyentuh orang-orang di sekitar mereka. Mereka juga dapat membantu misi di luar negeri dengan mendukung upaya kerajaan Allah secara finansial dan melalui doa.

Tuhan kita sungguh-sungguh menyuruh para pengikut-Nya untuk membagikan Injil. Perhatikan bagaimana Anda menghabiskan waktu dan uang Anda. Apakah ini menunjukkan ketaatan pada tugas terpenting yang pernah Anda terima? Perubahan apa yang harus Anda lakukan untuk memprioritaskan perintah Yesus?
(Dikutip dari “Bring the Gospel to the World” oleh In Touch Ministries (digunakan dengan izin)).
Sumber : Charles Stanley – https://www.christianity.com
