Ketuhanan YesusSpecial ContentYesus Kristus Tuhan

Mengapa Yesus Tidak Datang Lebih Awal dalam Sejarah?

Mengapa Yesus Tidak Datang Lebih Awal dalam Sejarah?

…Saya dapat mengemukakan beberapa alasan yang masuk akal bagi saya mengenai mengapa Allah tidak segera mengutus Kristus. Semua alasan itu berkaitan dengan fakta bahwa kita belajar di dalam dimensi waktu. Sebagai makhluk, kita terikat oleh waktu dan ruang. Tindakan yang segera dilakukan Allah adalah menjanjikan bahwa Dia akan menyelamatkan manusia yang telah jatuh dalam dosa. Kejadian 3:15 merupakan awal dari kabar baik yang memberitakan bahwa seseorang yang lahir dari seorang perempuan (yang kini kita ketahui sebagai Yesus) pada akhirnya akan menang atas Iblis: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Iblis mengira ia telah melumpuhkan [meremukkan tumit] Yesus di kayu salib, namun kebangkitan-Nya justru melukai secara fatal [meremukkan kepala] kuasa Iblis. Ini adalah yang pertama dari sekian banyak janji yang dibuat Allah; dan setiap janji itu telah Ia tepati dengan setia. “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki,

dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yesaya 55:11). Melalui penantian yang ditetapkan Allah, kita belajar lebih banyak tentang kesetiaan-Nya. Karena Dia selalu melakukan apa yang dijanjikan-Nya, kita belajar lebih banyak tentang kebenaran-Nya. “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23:19).

Yesus adalah Anak Domba, korban persembahan, Paskah, Imam, Nabi, Raja, penggenapan hukum Taurat, Roti Hidup, dan Sang Firman. Tanpa adanya waktu untuk mengembangkan gagasan-gagasan ini sepanjang sejarah dan melalui tulisan-tulisan dalam Kitab Suci, kita tidak akan pernah memahami kedalaman hakikat Allah. Sesungguhnya, Allah mengetahui saat yang tepat ketika Ia hendak mengutus Kristus ke bumi. Galatia 4:4-5 memaparkan hal ini dengan indah: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” Ia tidak datang lebih awal agar kita dapat belajar tentang iman. “Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.” (Galatia 3:23-24).

Demikian pula, kita belajar tentang kesabaran, kemuliaan, dan belas kasihan karena Allah memilih untuk menanti – “Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan – justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, ” (Roma 9:22-23).

Sungguh menakjubkan dan luar biasa untuk menyadari bahwa Allah merancang rencana-Nya, menciptakan kita, dan melaksanakan rencana itu dengan sempurna, agar kita dapat menikmati Dia. Dia sudah sepenuhnya dipuaskan di dalam ke-Allah-an sebelum penciptaan terjadi. Dia tidak menciptakan demi diri-Nya sendiri; sebaliknya, atas perkenan-Nya, Dia menciptakan demi kita. Sekadar bisa hidup saja merupakan anugerah yang tak terhingga. Bahwa Allah berkenan mengizinkan sebagian ciptaan-Nya hidup kekal dalam hubungan dengan Dia adalah hal yang melampaui akal budi. Saya tidak akan menolaknya hanya karena saya tidak dapat memahaminya. “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan – dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. ” (Efesus 2:4-7).

Diambil dari “Why didn’t God send Jesus to the earth to die right after Adam and Eve sinned?” karya Randy Alcorn, Eternal Perspective Ministries.

Sumber : Randy Alcorn – https://www.christianity.com