Mengenal Pribadi Dambaan Bagi Segala Bangsa?
“Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa akan datang” (Hagai 2:7).
Ayat yang menarik ini tampaknya memiliki makna ganda. Pertama, ayat ini berlaku bagi pembangunan kembali Bait Allah oleh Zerubabel. Dalam pengertian itu, Allah menjanjikan bahwa kekayaan bangsa-bangsa akan mengalir masuk ke dalam Bait Allah di Yerusalem. Bagian selanjutnya dari ayat tersebut menjanjikan bahwa Allah akan memenuhi Bait Allah yang telah dibangun kembali itu dengan kemuliaan-Nya.

Secara tradisional, umat Kristen melihat ayat ini sebagai bayang-bayang akan kedatangan Kristus, karena dalam Yohanes 2:20–21 Yesus menyebut tubuh-Nya sebagai “bait Allah ini.” Hal ini berarti bahwa melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya, Dia menggenapi apa yang digambarkan oleh Bait Allah – baik melalui rancangan, imamat, perabotan, maupun korban-korban di dalamnya. Yesus adalah “Dambaan Segala Bangsa” yang sesungguhnya dan pancaran kemuliaan Allah. Apa yang digambarkan oleh Bait Allah, digenapi oleh Kristus.
Namun, bukan itu saja.
Ketika penulis kitab Ibrani merenungkan akhir zaman yang akan datang, ia mengutip Hagai 2:6 dan menerapkannya pada kedatangan Kristus:
Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: ”Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Ungkapan ”Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. (Ibrani 12:26-27).
Itulah yang sedang Allah lakukan pada zaman kita ini. Dia sedang mengguncangkan bangsa-bangsa – secara harfiah! – agar dunia siap menyambut kedatangan Kristus. Sebagaimana kedatangan Kristus yang pertama terjadi “ketika genap waktunya” (Galatia 4:4), demikian pula kedatangan-Nya kembali ke bumi akan terjadi saat Allah telah mempersiapkan segalanya persis seperti yang telah Ia janjikan.

Yesus adalah satu-satunya pribadi yang dapat memuaskan kerinduan terdalam hati manusia. Sebagaimana dikatakan Pascal, terdapat kekosongan bentukan Allah di dalam diri setiap orang. Jika kita tidak mengisi kekosongan itu dengan Allah, kita pasti akan mengisinya dengan “makanan sampah” rohani dunia ini, namun dengan begitu kita tidak akan pernah merasa puas.
Orang-orang di dunia ini merindukan Kristus meskipun mereka tidak menyadarinya, karena hanya Dia yang dapat memenuhi kebutuhan terdalam mereka….
Dikutip dari “Desire of All Nations” karya Keep Believing Ministries (digunakan dengan izin).
Sumber : Ray Pritchard – https://www.christianity.com/
