Fakta Hidup Bersama Tanpa Ikatan Pernikahan alias Kumpul Kebo
Saat ini semakin banyak orang lajang yang memilih untuk hidup bersama alias kumpul kebo daripada menikah, yang dilakukan sebelum menikah dan setelah bercerai. Di luar manfaat menyewa rumah secara bersama dan kepuasan langsung dari seks, penelitian menunjukkan bahwa hidup bersama berdampak buruk pada keberhasilan hubungan bagi orang dewasa dan terutama berbahaya bagi anak-anak.

Kumpul kebo mengancam kesuksesan perkawinan. Jika Anda ingin menikah pada akhirnya, Anda harus tahu bahwa hidup bersama sebelum menikah meningkatkan risiko putusnya hubungan setelah menikah.
• Sebuah penelitian di Amerika pada tahun 1997 menyimpulkan bahwa “hidup bersama meningkatkan penerimaan remaja terhadap perceraian, namun tidak pada pengalaman hidup mandiri.”
• Penelitian ini juga menemukan bahwa “semakin lama masa hidup bersama yang dialami kaum muda, semakin kurang antusias mereka terhadap pernikahan dan melahirkan anak.”
• Setelah lima hingga tujuh tahun, 39% dari seluruh pasangan yang tinggal bersama akhirnya memutuskan hubungan, 40% menikah (tetapi pernikahan tersebut juga berakhir kandas), dan hanya 21% yang masih tinggal bersama.
• Tidak pernah ditemukan kontribusi positif dari praktek kumpul kebo terhadap pernikahan.

Kohabitasi, tinggal bersama tanpa pernikahan alias kumpul kebo melibatkan risiko fisik bagi perempuan dan anak-anak. Hidup bersama di luar nikah meningkatkan risiko kekerasan dalam rumah tangga bagi perempuan, dan risiko kekerasan fisik dan seksual bagi anak-anak.
• Penelitian menemukan bahwa perempuan yang tinggal bersama mengalami agresi kekerasan dua hingga lima kali lebih besar dibandingkan perempuan menikah. Fakta sebaliknya, sekelompok peneliti menyimpulkan bahwa pernikahan menghambat kekerasan.
• Tingkat perpisahan orang tua yang tinggal bersama jauh lebih tinggi dibandingkan orang tua yang menikah.
• Mayoritas bukti menunjukkan bahwa lingkungan keluarga yang paling tidak aman bagi anak-anak adalah ketika ibu tinggal bersama orang lain selain ayah biologis anak tersebut. Ini adalah lingkungan bagi sebagian besar anak-anak dalam rumah tangga berpasangan.

Hidup bersama merugikan kesehatan emosional dan relasional. Pasangan yang belum menikah memiliki tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan pasangan yang sudah menikah.
• Tingkat depresi rata-rata di antara pasangan yang tinggal bersama lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan tingkat depresi di antara pasangan menikah.
• Jika tidak didahului dengan hidup bersama, pernikahan justru dikaitkan dengan penurunan depresi yang signifikan dan substantif.
• Pasangan yang tinggal bersama mempunyai sikap yang lebih negatif dan kurang positif ketika menyelesaikan masalah perkawinan dan ketika memberikan dukungan kepada pasangannya dibandingkan dengan pasangan yang tidak tinggal bersama sebelum menikah, menurut sebuah penelitian.
Sumber : Susan Merrill – https://www.allprodad.com/
Baca Artikel Terkait Lainnya:
- Alasan Hubungan Ayah dan Anak Gadisnya Menjadi Canggung
- Gangguan yang Mengancam Putri Anda
- Tipe Pria yang Harus Dijauhi Anak Gadis Anda
- Mengenal Kecenderungan Gadis Remaja Merusak Diri Sendiri
- Harapan Masyarakat yang Bisa Menghancurkan Seorang Anak Gadis
- Kebohongan Berbahaya yang Dipercaya Gadis Remaja
- Hal Penting yang Dibutuhkan Remaja Anda untuk Menavigasi Masa Depan
- 4 Kekuatan yang Dianggap Anak Sebagai Kelemahan
- Anak Gadis dan Realitas Seks Remaja
- Tanda Peringatan Bunuh Diri
- Tindakan Merusak Diri Sendiri Pada Laki-Laki Muda
- Kebohongan yang Harus Ditolak Tentang Menjadi Lajang
- Faktor Pembentuk Anak yang Berpotensi Melakukan Kekerasan
- 4 Perkelahian yang Tidak Boleh Dihindari Putra Kita