Equip TraningLeadership

Keputusan Anda Menentukan Akhir Hidup Anda

Equip Seminar Buku 5 Bab 6

Pemimpin Yang Efektif Menuntut Pengambilan Keputusan-Keputusan Yang Bijak

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu. (Ulangan 30:19)

“Oleh sebab itu, takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia, Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada Tuhan. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!” Lalu bangsa itu menjawab: … Kamipun akan beribadah kepada Tuhan.” (Yosua 24:14-21)

Alkitab sangat jelas tentang dua kebenaran yang mendasar. Pertama, Allah itu berdaulat. Dia berdaulat secara mutlak atas dunia dan sejarahnya. Kedua, Dia telah mengizinkan kita untuk memilih apakah kita akan bekerja sama dengan Dia atau tidak dalam kepemimpinan kita. Nabi Yunus adalah contoh besar dari kedua kebenaran ini. Ia secara sukarela memilih untuk melarikan diri dari tujuan-tujuan Allah. Namun, Allah dengan jelas membujuk dia untuk kembali lagi dan akhirnya mewujudkan maksud-maksud Allah. Dalam pelajaran ini, kita akan mengkaji seni pengambilan keputusan dan bagaimana hal itu akan mempengaruhi bukan hanya kehidupan kita saja, namun juga kehidupan mereka yang menjadi pengikut kita.

Kesimpulan-Kesimpulan tentang Pilihan-Pilihan Kita

1. Para pemimpin membawa umat ke titik pengambilan keputusan.

2. Dalam beberapa bidang, kita tidak punya pilihan lagi.

3. Dalam beberapa bidang, kita memang punya suatu pilihan

4. Kita bertanggungjawab untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat

5. Semakin cepat kita mengambil keputusan-keputusan yang tepat semakin baik.

6. Para pemimpin mengambil keputusan-keputusan lebih dahulu.

7. Pilihan-pilihan seorang pemimpin mempengaruhi orang-orang lain.

Pada tahun-tahun permulaan kita, hidup kita pada dasarnya ditentukan oleh kondisi-kondisi kita. Seorang bayi tidak bisa memilih keluarga ataupun lingkungannya. Namun sementara usianya bertambah, demikian jugalah dengan pilihan-pilihannya. Perbedaan antara kondisi-kondisi dan pilihan-pilihan adalah sebagai berikut:

Kondisi-Kondisi :

– Masa awal kehidupan

– Tidak sukarela

– Orang lain yang membuat pilihan

– Kita bereaksi

Pilihan-pilihan

– Masa hidup di kemudian hari

– Sukarela

– Kita memilih sendiri

– Kita berprakarsa

Tempat tersunyi dalam kepemimpinan tersedia secara khusus bagi orang yang membuat keputusan yang pertama. Pemimpin yang tak membuat keputusan-keputusan menciptakan ketidak-nyamanan diantara para pengikutnya dan membuka peluang bagi para calon pemimpin muda yang menyadari bahwa sebuah keputusan harus diambil.

Seorang pemimpin kepala eksekutif dari sebuah perusahaan international yang besar pernah berkata: “95% dari keputusan-keputusan yang anda ambil sebagai seorang pemimpin sebenarnya dapat diambil oleh seorang remaja yang lumayan cerdas saja. Itu hanya membutuhkan akal sehat. Namun, anda dibayar karena 5% sisanya.”

Enam Fase Pengambilan Keputusan

Begitu anda menyadari bahwa pengambilan keputusan yang baik merupakan bagian dari wilayah kerja seorang pemimpin yang baik, maka anda harus mengalami sekurang-kurangnya enam fase dalam proses pengambilan keputusan:

1. Tahap peletakan dasar – Bagaimana latar belakang sejarahnya?

Ini adalah tahap dimana anda belajar memahami apa yang telah berlalu sebelum sampai pada tahap seperti sekarang, dan apa yang ada di bawah struktur yang anda sedang mencoba membuat keputusan-keputusan untuknya. Apa pergumulan-pergumulan yang ada dalam organisasi? Apa pula kemenangan-kemenangannya? Bagaimana budaya organisasinya? Mengapa demikian? Apakah sasaran-sasaran dan harapan-harapan anggotanya?

2. Tahap fakta – Bagaimana fakta-faktanya?

Inilah tahap dimana anda menghimpun semua fakta dan informasi yang ada untuk memberi wawasan tentang situasi yang ada. Sering ada dua sisi dari setiap masalah; pastikan bahwa anda menemukan apa yang ada di balik dua sisi dari suatu masalah. Penyelidikan anda akan menolong anda untuk sanggup melampaui intuisi atau upaya menduga-duga. Anda akan memiliki data kasar untuk dipakai dalam proses pengambilan keputusan.

3. Tahap umpan balik – Bagaimana tentang emosi-emosi yang ada?

Inilah tahap dimana anda meminta umpan balik dari orang-orang yang terlibat guna mendengarkan dimana hati mereka berada. Itu akan memberi wawasan kepada anda tentang kedua situasi yang ada dan tentang seberapa banyak orang-orang bersedia untuk menyerahkan diri demi keputusan itu. Para pemimpin yang efektif membaca (read) orang-orang yang mereka pimpin sebelum memimpin (lead) mereka.

4. Tahap memusatkan perhatian (focus stage) – Pilihan manakah yang bijak?

Inilah pertanyaan kunci dalam semua pengambilan keputusan. Amsal memberitahu kita bahwa hikmat berseru-seru di jalan-jalan… namun hanya sedikit orang yang mendengarnya. Ketika kita dipaksa untuk membuat sebuah keputusan, hikmat Allah hampir selalu muncul ke permukaan waktu kita mengajukan pertanyaan: Apakah keputusan yang bijaksana?. Kesulitan terbesar dalam pengambilan keputusan-keputusan bukanlah hal mengetahui keputusan yang benar, namun dalam proses pembuatan keputusan itu.

                                 Pada tahap ini, anda membuat keputusan

5. Tahap berbuah – Bagaimana keputusan ini dapat menghasilkan buah dan sukses?

Inilah tahap dimana anda memfokuskan diri pada masalah-masalah yang dapat menghalangi keputusan dan prosedur komunikasi keputusan tersebut kepada orang lain. Begitu anda menetapkan arah yang anda percayai sebagai yang terbaik, anda perlu berpikir melintasi penghalang-penghalang yang mungkin ada dan bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka yang perlu diberitahu. Para pemimpin yang sukses menangani masalah-masalah yang dapat muncul sebelum para pengikut memintanya.

6. Tahap bergerak maju – Kapan kita akan bergerak?

Inilah saat ketika anda berhenti membahas mengenai apa yang harus dilakukan, dan anda mulai bertindak. Anda menetapkan waktu yang tepat untuk bergerak lebih maju dan mengambil suatu langkah. Anda tidak lagi bergelut dengan langkah apa yang akan anda ambil, namun hanya kapan melangkahnya. Ingatlah kebenaran-kebenaran penting ini :

– Keputusan yang salah pada waktu yang salah = bencana

– Keputusan yang salah pada waktu yang tepat = kekeliruan

– Keputusan yang tepat pada waktu yang salah = kurang diterima

– Keputusan yang tepat pada waktu yang tepat = keberhasilan.

Sebuah Proses untuk Pengambilan Keputusan (Yakobus 1:1-8)

Dalam Yakobus 1:1-8, kita membaca sebuah proses tiga langkah dalam pengambilan

keputusan-keputusan. Yakobus memberitahu kita apa yang harus kita lakukan bila kita kekurangan hikmat namun sedang menghadapi suatu pilihan yang penting. Inilah tiga langkahnya:

1. Perenungan (ayat 2-4)

Kita dapat menemukan sukacita di tengah-tengah permasalahan hanya kalau kita menyadari tujuan dan hasil-hasilnya. Kuncinya adalah perspektif (cara pandang). Para pemimpin harus berpikir dengan benar tentang masalah-masalah. Mereka harus melihat masalah-masalah itu dari perspektif Allah sehingga para pengikut mereka bertumbuh menjadi semakin kuat melaluinya.

2. Permohonan (ayat 5).

Allah memberi kita pergumulan-pergumulan agar pada akhirnya kita tidak akan kekurangan sesuatu apapun. Namun Yakobus berkata bahwa kalau kita kekurangan hikmat, kita harus memintanya dari Allah. Bukanlah suatu tanda kelemahan bagi seorang pemimpin untuk berdoa memohon hikmat pada waktu menghadapi masalah-masalah atau keputusan-keputusan yang besar.

3. Antisipasi (ayat 6-8)

Kalau kita benar-benar meminta hikmat dari Allah, kita harus memohonnya dalam iman, mengharapkan jawaban-Nya. Begitu para pemimpin memperoleh perspektif dan mempercayai Allah untuk mengaruniakan hikmat, satu-satunya hal yang dilakukan hanyalah mengantisipasi pemecahan-pemecahan masalah dan mengungkapkan optimisme.

Pertanyaan: Satu keputusan apakah yang anda hadapi yang anda rasa anda tidak memiliki hikmat untuk membuatnya?

Pengambilan Keputusan Dalam Bidang-Bidang Yang Abu-Abu (1 Korintus 10:24-33)

Para pemimpin secara berkala menghadapi pilihan-pilihan yang berpengaruh bukan hanya untuk kehidupan mereka, namun juga bagi banyak orang lain. Lebih lagi, kebanyakan  itu tidak ada jawabannya yang jelas; mereka tidak nampak hitam atau putih namun abu-abu. Jadi, bagaimana seorang pemimpin bisa membuat keputusan-keputusan yang baik dalam bidang-bidang yang abu-abu ini?. Paulus menggambarkan sebuah sistem untuk pengambilan keputusan-keputusan yang pelik seperti ini.

1. Prioritaskan umat Allah

Para pemimpin harus mengambil keputusan-keputusan bukan atas dasar apa yang paling menguntungkan diri mereka sendiri. Istilah “orang-orang lain” dalam bagian Kitab Suci ini menunjuk kepada orang-orang yang “tidak seperti anda.” Mereka berbeda dengan kita dan kemungkinan besar melihat masalah-masalah dengan cara yang tidak sama dengan cara kita melihatnya. Para pemimpin harus memilih apa yang terbaik bagi orang-orang lain, bukan apa yang cocok dengan selera mereka sendiri. Tanyakan pada diri anda sendiri: Siapa yang paling diuntungkan oleh keputusan ini?

2.  Kejarlah kemuliaan Allah

Apakah keputusan itu memuliakan Allah atau seseorang yang lain?. Paulus akan menyetujui isi katekismus pendek yang berbunyi, “Tujuan terutama manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya. “Bagaimanapun, semua keputusan-keputusan besar mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Tanyakan pada diri anda sendiri: Apakah keputusan ini memberi suatu gambaran yang lebih baik tentang siapa Allah itu?

3. Merasakan tujuan Allah

Tujuan puncak dari kehadiran kita di dunia ini adalah untuk membawa orang-orang.lain kepada Kristus. Sementara para pemimpin boleh saja memiliki banyak tujuan-tujuan kecil, namun yang kita bicarakan ini adalah tujuan tertingginya. Kita harus selalu bergerak ke arah pemenuhan misi ini. Tanyakan pada diri anda sendiri: Apakah keputusan ini akan memperkenankan Allah dan menggenapi tujuan-Nya?

Prinsip-Prinsip tentang Pengambilan Keputusan

1. Pilihan saya, dan bukan nasiblah, yang akan menentukan akhir hidup saya.

Catatan:…

2. Memilih untuk tidak membuat keputusan berarti memilih untuk membiarkan orang lain mengendalikan hidup saya.

Catatan:….

3. Memilih untuk membuat keputusan berarti siap mengambil tanggung jawab.

Catatan: …

4. Tidak mengambil keputusan adalah tanda dari pikiran yang penuh ketakutan.

Catatan: ….

5. Pengambilan keputusan adalah tanda dari seorang pemimpin.

Catatan: ……

6. Para pengikut bisa hidup tanpa kepastian, namun mereka tidak bisa hidup tanpa kejelasan.

Catatan:….

7. Pemimpin yang bersikeras untuk mendapatkan pengetahuan yang sempurna lebih dahulu sebelum membuat keputusan, tidak akan pernah membuat keputusan apa-apa.

Catatan: ……

8. Keputusan-keputusan melepaskan energi, wawasan, komitmen dan dukungan.

Catatan: ….

9. Semakin besar pengikut, semakin besar pula tekanan untuk penyesuaian diri.

Catatan: ….

10. Orang-orang hebat adalah orang-orang biasa yang membuat keputusan yang luar biasa.

Catatan: …

11. Keputusan-keputusan harus dibuat pada tahap terendah dalam sebuah organisasi.

organisasi.

Catatan: ……

12. Keberhasilan tidak hanya menjadi milik beberapa orang yang terpilih, tetapi milik

beberapa orang yang memilihnya

Catatan: …..

Penilaian : Keputusan-keputusan apa yang anda ragu-ragu untuk membuatnya dalam kepemimpinan anda?

Mengapa anda ragu-ragu? Apa yang membuat sulit untuk mengambil keputusan-keputusan itu?

Penerapan : Daftarkan dua langkah tindakan yang dapat anda ambil untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih baik?

1.

2.

Sumber : Equip Seminar Buku 5 Bab 6 – materi digital disusun Nathanael Ricardo untuk www.transformasi.com. 

Equip Seminar adalah pelatihan kepemimpinan yang merupakan bagian dari proyek global Millions Leaders Mandate – Mandat Sejuta Pemimpin dengan tujuan menyiapkan sejuta pemimpin yang mempengaruhi dunia dengan kabar baik. Diinisiasi oleh penulis buku dan hamba Tuhan John C. Maxwell, materi dalam program ini banyak belajar tentang kepemimpinan dari pemimpin utama sekaligus model pelayanan kehambaan tak terbantahkan, Tuhan itu sendiri.

Penyusun memiliki dua sertifikasi untuk pelatihan ini sejak tahun 2006 dan memperoleh ijin untuk membagikan materi ini bagi semua orang yang ingin diperlengkapi untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Anda bisa menjadikan materi ini sebagai bahan mentoring di perusahaan, pemuridan di organisasi kerohanian atau sekedar bacaan bagi anda. Silakan menggunakan materi ini dengan syarat mencantumkan sumber materi.

Untuk mendapatkan hasil terbaik dari pelatihan ini disarankan untuk mempelajari materinya secara lengkap dan runtun. Buatlah pelatihan yang terencana dan terjadwal, lakukan dalam grup atau berkelompok serta ciptakan ruang interaktif untuk memperoleh hasil yang maksimal. Selamat menjalani proses untuk kepemimpinan yang diberkati Tuhan.

Baca EQUIP Leadership Seminar Buku 5 :

Buku 5 Bab 1 – Pondasi Kepemimpinan Kita

Buku 5 Bab 2 – Kepemimpinan adalah Penatalayanan

Buku 5 Bab 3 – Memimpin Pribadi-Pribadi Yang Berbeda

Buku 5 Bab 4 – Prinsip-Prinsip Untuk Penyelesaian Tugas

Baca Artikel Utama Tentang Pemimpin dan Kepemimpinan :