ChurchEdukasi & KesehatanEdukasi TeologiMentoring dan Pemuridan

Kajian Kitab Ayub

Eguipping Church Sesi 3 (19 Juni 2024)

Oleh : Dr. Ruben Nesimnasi, M.Th

Kitab Ayub merupakan hikmat terbesar dalam Perjanjian Lama.

Ayub hidup pada zaman nenek moyang Israel (Abraham, Ishak, Yakub), seorang yang kaya dan berpengaruh, yang tulus hati dan saleh. Namun secara tiba-tiba ia kehilangan harta benda dan keluarga, kemudian menderita penyakit yang parah.

Permasalahan yang perlu direnungkan dan dapat diambil hikmatnya adalah “Mengapa orang benar dibiarkan Allahmenderita?”.

Kitab Ayub memberi kunci bagi setiap orang yang menderita: seharusnya menerima penderitaan yang diizinkan oleh Allah dan tetap memuji Dia, dengan penuh keyakinan akan kebaikan-Nya sebagaimana diungkap oleh Ayub: “Aku dilahirkan tanpa membawa apa-apa, dan aku akan kembali tanpa membawa apa-apa. Tuhan yang memberi dan Tuhan pula yang mengambil. Terpujilah namaNya” (Ayub 1:21).

Pengalaman iman Ayub menghantar pada suatu pengharapan kemenangan di balik penderitaan yakni hikmat terbesar Ayub 42:2; “aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal”.

Penulis

Tidak diketahui, beberapa pendapat bahwa : Ayub, Elihu, Musa, Salomo, Yesaya, Hizkia dan lainnya. Tidak ada seorangpun yang dapat dikatakan dengan pasti. Hanya satu hal yang pasti penulis adalah seorang Yahudi yang setia.

Pokok Kitab Ayub bukanlah pertobatan seorang yang berdosa, melainkan pengabdian seorang yang saleh.

Tema Kitab Ayub adalah penderitaan.

Tempat terjadinya peristiwa dalam Ayub ialah “di tanah Us”. Namun bukti dalam Alkitab menunjuk kepada daerah sebelah timur dari Libanon bagian selatan.

Tujuan Kitab Ayub

“Jikalau Allah itu adil dan penuh kasih, mengapa diizinkannya orang yang sunguh-sungguh benar seperti Ayub menderita ?” (Ayub 1:1,18). Ketika menggumuli pertanyaan ini, penulis mengemukakan:

1. Iblis menerima izin untuk menguji kesejatian iman seorang benar, namun kasih karunia Allah menang atas penderitaan.

2. Rencana terlalu luas sehingga tak dapat dipahami oleh pikiran manusia (Ayub 37:5).

3. Dasar iman sesungguhnya tidak terletak pada berkat-berkat Allah, namun dalam penyataan Allah sendiri.

4. Allah kadang-kadang mengijinkan ujian untuk orang-orang benar agar memurnikan iman seperti emas yang dimurnikan (Ayub 23:10).

Ajaran dalam Kitab Ayub

Ada 8 pelajaran penting dalam Kitab Ayub:

1. Pelajaran tentang Alam.

Tokoh – tokoh dalam kitab Ayub menyajikan fakta-fakta astronomi yang baru diketahui secara umum dalam abad ke-20 ini. Pengetahuan mereka tentang ilmu bumi, alam dan hewan sangat tepat.

Kitab Ayub sebagai salah satu buku yang tertua di dunia, telah menerangkan bahwa bumi ini bulat, tergantung di angkasa, menyebut gerakan berputar dan kepadatan awan, nama bintang-bintang dan susunan bintang masa kini, perputaran dan perkisaran bumi (Ayub 22:14 ; 26:7 ; 28:24-26 ; 38:31,32).

2. Pelajaran tentang Iblis.

Pelajarannya tentang Iblis merupakan salah satu keistimewaan kitab Ayub. Allah memperlihatkan kenyataan bahwa musuh jiwa manusia itu suatu oknum yang memiliki kuasa yang besar, ia menguasai angin dan kilat di langit, serta wabah dan penyakit di bumi.

Dialah “pendakwa saudara – saudara kita” tetapi walaupun ia yang menjadi sumber segala kejahatan, tanpa seizin Allah, ia tidak dapat mencobai manusia (1 Korintus 10:13).

Iblis diperkenankan sebagai pendakwa orang beriman. Iblis mengatakan bahwa Ayub tidak akan setia lagi kepada Allah, Jika Allah mengambil berkat-berkat jasmaniah itu dari padanya.

3. Pencobaan dan penderitaan tidak hanya disebabkan oleh keadaan hidup, lingkungan atau tindakan orang lain atau kesalahan sendiri, namun dibelakang semuanya iblis bekerja dan berusaha untuk menjatuhkan orang saleh serta menghancurkan iman dan kesetiaan kepada Tuhan.

4. Dosa manusia yang terbesar adalah kesombongan. Teman-teman Ayub selalu membicarakan orang berdosa sebagai orang yang melakukan penindasan, pembunuhan, pencurian, percabulan, dsb.

5. Salah satu penyebab penderitaan adalah dosa/kesalahan manusia sendiri. Tuhan memakai penderitaan untuk menyadarkan manusia akan dosanya dan perlu untuk bertobat.

6. Tuhan menggunakan penderitaan hamba-hambaNya untuk menunjukan bahwa iblis adalah pendusta (Ayub 1:11)

7. Dalam kitab Ayub, Tuhan dinyatakan sebagai Allah yang Mahakuasa dan berdaulat. Ia mengatur jalan alam semesta sejak penciptaan sampai sekarang (Ayub 38:1-39:33).

8. Ayub menjadi tipologi Yesus yang tanpa salah salah tetapi banyak menderita, diolok, dihina oleh sesamanya.

Masa hidup Ayub.

Pada waktu pencobaannya itu ia sudah menikah dan anak-anaknya sudah dewasa. Anak – anak lelakinya tinggal di rumah mereka masing – masing.

Ishak menikah pada usia 40 tahun dan Yakub pada usia 44 tahun. Mungkin usia Ayub itu kira-kira 60 tahun ketika kisahnya dimulai dalam pasal pertama.

Karena ia hidup 140 tahun setelah ujian ini (Ayub 42:16), maka paling tidak ia berusia 200 tahun ketia ia meninggal dunia.

Ringkasan isi kitab Ayub

1. Kepribadian Ayub : Pasal 1–2 .

Tokoh utama dalam kitab Ayub ialah Ayub sendiri. Nama Ayub dalam bahasa Ibrani berarti: orang yang dianiaya atau orang yang kembali kepada Allah.

Tak ada dasar yang kuat untuk meragukan Ayub sebagai seorang tokoh sejarah. Dalam Yehezkiel 14, ia disebut bersama-sama dengan Nuh dan Daniel sebagai seorang dari tiga penengah yang paling berkenan kepada Allah.

Di Perjanjian Baru, Yakobus 5, Ayub disebut bersama–sama Elia. Jika Elia diakui sebagai tokoh sejarah, maka seharusnya Ayub-pun demikian juga.

Tiga hal tentang Ayub, yaitu :

1. Ayub, seorang yang paling kaya di dunia Timur, memiliki sejumlah besar ternak dan hamba, yang merupakan harta kekayaan pada zaman itu. (Ayub 1:4 ;29:7)

2. Ayub, seorang yang dihormati, bukan saja seorang yang kaya raya tetapi namanya juga harum, memiliki kedudukan sebagai pemimpin dan hidup sebagai seorang raja di kotanya itu. Ia bagaikan seorang bapa bagi orang miskin dan hakim yang menolong orang yang tertindas.

3. Ayub, seorang yang benar Ayub menyenangkan hati Allah dan juga manusia. Walaupun di sekitarnya ada penyembahan berhala, dengan setia ia menyembah Allah yang hidup dan benar. Setiap hari ia mempersembahkan korban untuk dirinya dan untuk semua anak – anaknya. Ia disebut seorang yang “tulus hatinya”, yang menunjukkan bahwa perangainya tak bercela dan ia jujur dalam pikiran maupun perbuatan. Pengakuannya bahwa ia memerlukan seorang Penebus merupakan puncak pengakuan di dalam kitab Ayub (19:25).

2. Pencobaan Ayub (Pasal 3 – 37).

Kesetiaan Ayub kepada Allah mengalami ujian yang sangat berat. Allah menguji dia, Ia kehilangan semua lembu keledainya, kemudian kambing dombanya, lalu semua untanya dan akhirnya semua anaknya laki – laki dan perempuan.

Betapa cepat dan hebatnya serangan iblis. Namun Ayub tetap setia kepada Allah. Ia tahu bahwa semua yang dimilikinya itu pemberian Allah dan Allah berhak mengambilnya kembali.

Keadaan Ayub sangat menyedihkan dan rupanya begitu mengerikan sehingga istrinya dan sanak saudaranya meninggalkan dia. Ketabahan imannya di dalam masa pencobaan itu membuktikan, bahwa ia hidup bagi Allah bukan karena kekayaan, keluarga atau kesehatan.

3. Kunjungan Elifas, Bildad dan Zofar (3 – 31).

Ketika ketiga orang sahabatnya: Elifas, Bildad dan Zofar datang untuk menyatakan simpati, tetapi akhirnya mengecam dirinya.

Secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa orang–orang beragama akan menganggap Ayub sebagai orang munafik, berbuat jahat dengan sembunyi-sembunyi, karena ia ditimpa berbagai malapetaka yang begitu hebat.

Pidato mereka dan jawaban Ayub mengambil tempat sebagian besar dalam kitab Ayub. Falsafah mereka ditujukan kepada orang yang terkena bencana itu dalam tiga rentetan pidato, yang dijawab oleh Ayub dengan perkataan yang membela dirinya.

4. Pidato Elihu (Ayub 32 – 37).

Ketika Elifas, Bildad dan Zofar tidak dapat meyakinkan Ayub bahwa penderitaannya itu akibat dosa, Elihu tampil dan memberikan sanggahan baru. Ia menyalahkan ketiga sahabat itu, sebab mereka dengan tidak adil menuduh Ayub sebagai orang  yang munafik, ia juga menyalahkan Ayub sebab menuduh Allah tidak adil. Ia memperingatkan mereka semua agar menyaksikan kebesaran Allah dalam penciptaan dan kebaikan-Nya yang dinyatakan-Nya itu. Elihu ialah “wasit” yang diingini Ayub (9:33), karena Elihu berpendapat bahwa penderitaan mempunyai faedah sebagai pengajaran dan bahwa pada akhirnya Allah mempunyai maksud yang baik untuk orang yang menderita.

5. Teguran Allah (38 – 41).

Ayub mengeluh bahwa Allah berdiam diri dan tidak memperhatkan ratap tangisnya, tetapi setelah pidato Elihu, datanglah jawaban Allah.

Dalam pasal ini yang merupakan bagian yang terindah di dalam Alkitab, Allah menjawab Ayub dan temanya ialah diri-Nya sendiri. Elihu telah mengemukakan hikmat dan kuasa Allah, kini Allah menyatakan diri-Nya sendiri. Nyatalah bahwa Allah tidak memberi

keterangan tentang penderitaan Ayub, tidak memberi keputusan tentang pokok perdebatan mereka dan tidak juga menawarkan ganti rugi kepada hamba-Nya karena penderitaannya itu. Ia menunjukkan bahwa tindakan-Nya terhadap Ayub tidak dapat dikecam.

6. Pemulihan Ayub (Pasal 42).

Sebagai akibat pernyataan Allah ini, Ayub membenci dirinya sendiri. Kemudian ia disuruh menaikkan doa untuk ketiga temannya dan dengan demikian nama baiknya dipulihkan dipemandangan mereka. Demikianlah Ayub, seperti Nuh dan Daniel, menjadi perantara

yang agung. Tidak hanya nama baiknya dipulihkan, tetapi ia juga hidup cukup lama sehingga dapat melihat anak-anak dan cucunya, hartanya yang mula – mula dilipatgandakan dan ia mendapatkan kembali martabat dan kemakmurannya yang semula.

Ciri khas kitab Ayub

1. Kitab ini mengajikan pembahasan terdalam tentang penderitaan.

2. Kitab ini mengajikan suatu dinamika dalam setiap ujian berkat yang dialami orang saleh.

3. Kitab ini memberikan sumbangsih kepada seluruh pernyataan alkitabiah tentang pokok-pokok [enting seperti: Allah, Manusia, penciptaan, iblis, dosa, kebenaran, penderitaan, kesedihan, pertobatan dan iman.

4. Sebagian besar kitab ini mencatat penilaian teologis tentang penderitaan Ayub oleh teman-temannya.

5. Peran iblis sebagai penuduh orang benar ditunjukan dengan lebih jelas dalam kitab Ayub dibanding dengan kitab PL lainnya.