Kecanduan & Kebiasaan BurukSpecial Content

Pengobatan Untuk Pecandu Narkoba

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dewasa ini dunia kedokteran menawarkan berbagai macam pengobatan mutakhir untuk pecandu dengan beragam paket harga. Pengobatan untuk itu dikenal dengan istilah detoksifikasi. Detoksifikasi bagi orang awam secara sederhana dapat diartikan mengeluarkan racun dari dalam tubuh penderita yang diakibatkan dari pemakaian narkoba.

Macam-macam detoksifikasi yang dilakukan baik oleh rumah-rumah sakit maupun klinik pusat rehabilitasi antara lain:

1. Rapid detoksifikasi

Adalah detoksifikasi yang “instant” merupakan terobosan dengan menggunakan atau memberikan obat santagini narkotik. Pasien dirawat di ruang ICU selama kurang lebih 6 jam saja untuk menjalani proses detoksifikasi. Setelah itu ia dipindahkan ke kamar perawatan, hanya perlu dirawat inap selama satu hari.

Detoksifikasi canggih ini di negara kita terkenal dengan istilah “Pengobatan Israel” karena dokter yang terkenal untuk menangani detoksifikasi ini adalah seorang dokter ahli anastesi yang bernama Dr. Andre Waismann.

2. Homeopati

Detoksifikasi ini mempergunakan obat yang berasal dari herbal/ tumbuh-tumbuhan yang disuntikkan ke dalam tubuh pasien setiap 2 jam dalam waktu 24 jam. Untuk detoksifikasi ini, pasien perlu dirawat inap di rumah sakit selama 2 hari. Detoksifikasi ini terkenal dengan istilah “Pengobatan Cara Malaysia” karena dokter yang terkenal untuk cara ini berasal dari Malaysia (dr. Mathia).

3. Conventional Detox

Untuk menjalani detoksifikasi secara konvensional/alamiah maka pasien harus tinggal di rumah sakit atau klinik selama 5-10 hari tergantung dari kondisi tubuhnya. Pasien diberi obat-obat tertentu dan menjalani salah satu dari terapi :

a. Simtomatis:

Mengatasi gejala-gejala putus zat, dengan obat-obatan / diberikan penawarnya.

Misalnya: Analgetik, ponstan, antalgin, panadol, anti mual/muntah, anti diare, obat penenang, ansomnia, obat pilek.

b. Simtomatis dengan substitusi opiat

Bersifat agonis opiat, atau berasal dari golongan yang sama. Obat-obat pengganti ini, dosisnya diturunkan bertahap.

Misalnya: Codein HCL Clonidin, Metadon, Lofeksidin, Guanfasin, Buprenorfin.

c. Simtomatis dengan substitusi non opiat

Perawatan dengan menjalani pemeriksaan lengkap, dengan mendeteksi kelainan-kelainan fisik. Memakai obat tidur ringan. Saat gejala putus zat sudah minimal, diberikan antagonis opiat dalam dosis kecil

4. Cold Turkey Detox

Dalam dunia kedokteran Cold Turkey juga disebut “Abrust Withdrawal”. Tidak semua pecandu dapat menjalani detoksifikasi jenis ini. Dari kacamata ilmu kedokteran detoksifikasi ini hanya cocok untuk pecandu ringan yang baru mengkonsumsi narkoba sedikit dan dalam taraf coba-coba. Mengapa? Hal ini dikarenakan tidak ada obat-obat khusus ataupun tindakan medis yang diberikan kepada pasien dan pasien tidak perlu dibawa ke rumah sakit, cukup dilakukan di rumah saja.

Detoksifikasi cold turkey ini ialah ketika pecandu sedang mengalami “sakaw” (sakit akibat tubuhnya menagih suplai narkoba tetapi tidak mendapatkannya) maka ia tidak diberi apa-apa dan dibiarkan saja dalam kesakitannya. Ia hanya perlu diawasi/ditunggui oleh orang tua/ keluarganya terus menerus selama 24 jam sampai “sakaw”nya berlalu.

Mengapa harus ditunggui oleh orangtuanya? Hal ini hanya untuk mengantisipasi kalau-kalau terjadi apa-apa dengannya (komplikasi) sehingga ia harus dibawa ke rumah sakit untuk menjalani conventional detox.

Cara ini baik untuk orang percaya untuk melatih iman bahwa kuasa Tuhan mampu melepaskan belenggu narkoba yang membelenggu kehidupan seseorang dan kuasa darahNya yang sanggup menyembuhkan sakit penyakit. Namun demikian diperlukan persyaratan rohani sebagai berikut:

1. Konseling

Perlu diadakan konseling/pendekatan dengan si pecandu supaya ia mengerti pada waktu yang tepat. Bimbinglah ia untuk menyadari bahwa ia sudah berdosa dan perlu pengampunan dari Tuhan. Setelah itu tantanglah ia untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat pribadi dalam hidupnya. Yakinkan dan berilah harapan bahwa Tuhan Yesus sanggup melepaskannya dari kesakitan dan belenggu narkoba.

2. Penuh kasih

Orang yang melayaninya haruslah sabar dan penuh kasih (Yohanes 13:34, 1 Korintus 13:4). Orang inilah yang bertugas membersihkan apabila si pecandu muntah, diare dll. Ketika ia sakaw atau bemanifestasi maka didoakan.

3. Doa dan kesiapan

Orang yang melayani harus sungguh-sungguh berdoa dan dalam kesiapan rohani yang mantap karena pelayanan ini adalah peperangan rohani (Efesus 6:10-18). Tiada yang mustahil bagi orang percaya bila Roh Allah turut bekerja!

Dalam dunia kedokteran ada obat khusus yang bernama Naltrexon yang dapat membuat si pecandu tidak “fly” dan tidak juga sakaw apabila ia mengkonsumsi narkoba lagi setelah tubuhnya “dibersihkan” melalui detoksifikasi. Obat ini diberikan setelah menjalani detoksifikasi.

Setelah detoksifikasi selesai maka urine pasien diperiksa di laboratorium. Jika hasil test urine/ opiat, maka terapi dengan Naltrexon dapat dilakukaan. Pemberian Nalteron biasanya kurang lebih 9 bulan diminum 1x sehari secara teratur dan terus menerus sesuai petunjuk dokter.

Anda perlu berhati-hati dengan Naltrexon karena obat ini dapat membuat si pecandu kebal terhadap narkoba sehingga cenderung untuk menambah dosis pemakaian yang dapat berakibat overdosis dan meninggal dunia secara mendadak.

Tuhan memang luar biasa, ia memberikan hikmat kepada manusia sehingga kemajuan IPTEK termasuk dunia kedokteran sangat pesat menjelang millenium yang baru ini.

Sumber : Erwin Pohe – Peran Keluarga Menghadapi Narkoba

Berita Terkait Kecanduan dan Kebiasaan Buruk :  

Artikel Utama Kecanduan dan Kebiasaan Buruk :

Apa Itu Pecandu dan Memahami Tentang Kecanduan